Tuesday, August 9, 2016

[Resep] Hola Granola! (Gluten-Free)


Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya saya berhasil juga membuat granola clusters (gumpalan) impian, yaitu granola yang renyah, tidak terlalu manis, dan tentu tetap sehat tanpa menggunakan tepung terigu, minyak sawit, dan tanpa penggunaan gula tebu.

Kenapa nggak beli saja sih? Memang sudah banyak produsen granola lokal yang membuat campuran granola yang tak kalah enak dengan di luar sana. Seperti misalnya merk granola favorit saya, Granola Creations asal Bali yang membuat granolanya dengan kacang-kacangan dan buah lokal, tanpa mengorbankan rasa. Tapi pada dasarnya, saya hobi berhemat; satu pak Granola Creations, harganya berkisar antara 70-80 ribu, dan hanya bisa ditemui di supermarket premium seperti Kem Chicks, Ranch Market atau Grand Lucky. Tentu akan lebih hemat kalau bikin sendiri toh?




Tantangan paling besar buat saya adalah bagaimana membuat granola renyah tanpa bantuan tepung terigu dan minyak jenuh. Setelah tengak tengok beberapa resep dan tips di internet, ternyata kuncinya adalah: putih telur.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana agar granola yang saya buat matang merata. Beberapa kali saya coba, seringkali bahan-bahan yang saya campurkan tidak matang bersamaan, alhasil, kadang kacang-kacangnya keburu gosong, padahal oats-nya belum matang. Kunci kedua: buah-buahan kering, dan kacang-kacangan sebaiknya ditambahkan belakangan ketika oats sudah matang.

Bahan-bahan utama akan saya sebutkan di resep, tapi untuk kacang dan buah, kita bisa ganti-ganti sesuka hati dan setersedianya bahan di rumah Anda yah.


Taburan granola di atas buah-buahan & susu almond.
Bahan-Bahan:
3 cups (285 gram) oat utuh* (bukan oat instan ya. Sekarang sudah mulai banyak jual di swalayan, kalau mau lebih murah bisa beli online. Sekitar 35-40rb/kilo)
1/2 cup (50 gram) tepung oat (saya pakai oat instan yang diblender sampai halus)
2 sdm minyak kelapa
1/2 cup gula aren (bisa juga separuhnya diganti dengan madu)
1 putih telur yang dikocok kaku
1/4 sdt garam laut
1/2 sdt kayu manis bubuk (opsional)
1/2 cup kelapa parut yang sudah dikeringkan (opsional)
1/2 cup biji-bijian
1 cup kacang-kacangan mentah, potong kecil-kecil lalu panggang sebentar di oven suhu rendah selama 10-15 menit, sisihkan 
1 cup buah kering, potong kecil-kecil 

Catatan:
- Untuk biji-bijian saya pakai wijen putih. Pilihan lain: kuaci, biji labu, flaxseed, chia, dll
- Kacang: saya pakai campuran kacang mete dan almond (supaya murah, saya sarankan beli online di toko yang terpercaya. Saya beli di sini).
- Buah kering: saya pakai campuran mangga kering, kismis dan fig (buah tin oleh-oleh dari Arab).
- Saya sebut resep ini bebas gluten karena memang sejatinya, oats itu tidak mengandung gluten. Namun, pada proses pembuatannya, seringkali oats diproses di tempat yang juga mengolah gandum. Sehingga, kalau mau granola yang benar-benar bebas gluten (misal: karena intoleransi atau alergi gluten), harus beli oat yang gluten-free di toko kesehatan atau di toko online)

Cara:
1. Panaskan oven hingga 160 celcius (api sedang)
2. Campur bahan kering: oat utuh, tepung halus, garam, gula aren, kayu manis bubuk
3. Masukkan minyak, aduk rata, lalu masukkan telur yang sudah dikocok kaku, aduk rata.
4. Tuang adonan ke loyang panggang yang sudah dilapisi kertas minyak, ratakan permukaannya agar matang merata.
5. Panggang sekitar 15 menit. Lalu kecilkan api oven ke pengaturan paling rendah (140 celcius di oven saya) lalu panggang lagi sekitar 20 menit. (Di tahap ini, permukaan granola akan kering, dan baunya mulai harum)
6. Matikan oven, biarkan di dalam oven sampai dingin.
7. Hasilnya akan menyerupai 'granola bar' raksasa, pecahkan seukuran yang Anda mau, lalu pindahkan ke dalam toples kedap angin.

Selamat mencoba!

Wednesday, June 15, 2016

[RESEP] Eclair! (Bahan dasar Choux Pastry)



Sudah pernah nyobain eclair? Kalau pernah makan yang namanya kue sus, berarti kamu pernah makan (sejenis) eclair. Eclair, secara definisi adalah kue sus atau choux yang dibentuk memanjang, dilapisi gula atau coklat leleh, lalu diisi berbagai macam isian.

Di Indonesia sendiri, kue sus lumayan juga pamornya. Dari yang otentik di patisserie mentereng hingga versi sederhana di pasar tradisional. Perbedaannya utamanya tentu pada bahan-bahan yang digunakan.

Wednesday, June 8, 2016

[REVIEW] Kabur Liburan Akhir Pekan ke Sheraton Bandung!

Dua pekan lalu, saya dan suami berkesempatan untuk 'berlibur' singkat di Bandung atas undangan Sheraton Hotel & Towers Bandung. Pakai tanda petik karena ini sebenarnya dalam rangka nulis artikel, tapi karena suami diperbolehkan ngintil jadilah plesiran singkat padat.

Untuk menghindari macet, kami memutuskan untuk berangkat jumat larut malam (sekitar jam 22.00) dan tentu tol dalam kota masih padat dat. Tapi setelah melewati Bekasi, jalanan relatif lancar, sehingga Jakarta Bandung dapat kami tempuh dalam waktu 3 jam saja. Lumayan lah gak jelek-jelek amat. walau jujur medannya agak ngeri kalau malam, mengingat banyaknya truk-truk besar, mobil travel yang nyetirnya lumayan beringas, terutama di tol Padaleunyi yang agak-agak bikin deg-degan.

Sampai di hotel sekitar tengah malam. Setelah cek in, kami diantar ke salah satu Towers Room (area towers adalah tambahan paling belakangan hotel ini). Alangkah senangnya melihat kamar kami, begitu lapang, dengan balkon yang bisa dipakai untuk ngopi, ngelamun menghadap pemandangan dan kebun hotel.


Oiya, kalau Anda menginap di bagian towers ini, Anda juga akan mendapatkan akses gratis ke Towers Lounge yang menyediakan cemilan dan minuman untuk dinikmati sembari menikmati pemandangan  ke kebun dan serta bukit dago yang cantik.



[REVIEW] Smarty Fancy Italian at Scusa, Intercontinental Hotel Jakarta

I, on behalf of the website I work for, was recently invited to a very pleasant lunch at Intercontinental Jakarta's Scusa, which was apparently revamping its menu with the recent arrival of their new chef, Gianluca Visciglia.

Despite Scusa's reputation as one of the best Italian fine dining place in Jakarta, this was my first visit to the restaurant, because as much as I love food, it's a rarity for me to be able to justify very expensive food. But I do like to and feel the need to explore the entire gamut of food experience, in all price range!

To Scusa's defense, I have heard that the restaurant is one of the firsts (a senior Journalist said that at one point you could not get any fancier than Scusa) fine dining restaurants in the city, and now, compared to other Italian restaurants like Rosso or Casa D'oro, Scusa has the least extravagant price tag.

There are a number of highlights on the new menu that were presented that day, but for the first course, we were presented with a platter of three appetizers which includes Vitello Tonnato, a Piedmontese dish of cold, sliced veal covered.

Below: Vitello Tonnato a Modo Mio, thinly sliced slow cooked veal loin served with tonnato sauce, lemon jelly, capers and polenta croutons,



[REVIEW] Lezatnya Ayam Goreng 'Jumbo' Mbah Cemplung

Jangan tertukar, ada Ayam Goreng Mbah Cemplung, ada lagi Ingkung mbah cempluk. Dua duanya sama legendarisnya, tapi namanya sungguh mudah bikin keseleo. Keduanya sama-sama menjual hidangan ayam kampung, sama-sama berlokasi di Bantul, dan sama-sama menempati warung makan yang cukup sederhana.

Untuk membedakan, yang dinamakan Ingkung itu adalah ayam kampung yang dimasak lama dengan santan, kurang lebih mirip seperti opor tapi minus kuah membanjir, dan hanya tersisa sedikit kuah kental. Kalau ayam goreng, nggak perlu dijelaskan dong? hehehe. Nah, kalau ngaku penggemar Ayam Goreng, wajib nyoba yang satu ini.


Sumber foto: Kompas.com

Nah yang saya datangi waktu saya terakhir berkunjung ke Yogyakarta adalah si Ayam Goreng Mbah Cemplung yang berlokasi di Kasongan, Bantul, Saat itu saya datang di hari Minggu jam makan siang, restoran cukup ramai dengan pengunjung bermobil. Walaupun menempati bangunan sederhana, area restoran cukup bersih dan terawat.

Karena sudah kadung lapar, kami langsung memesan ayam goreng untuk satu keluarga saya, tentu plus sambal, lalap dan nasi. Lauk pelengkap seperti botok yang dijajakan di dekat dapur pun tak luput dari mata kami. Selain murah (kalau nggak salah, masing-masing cuma Rp. 3000), rasanya pun enak, apalagi kalau dipadu dengan nasi hangat. Loh kok jadi ngomongin botok, ini?

Tak lama kemudian Ayam Goreng kami datang;



Sunday, May 8, 2016

[REVIEW] The Holy Crab, Senopati

Sudah lama pengen coba karena nama dan tampak luarnya yang unik, akhirnya mendarat juga saya di Holy Crab di daerah Senopati yang kian hari kian trendi.

Restoran ini, kalau nggak salah sih, adalah salah satu pelopor yang mempopulerkan cara makan seafood ala 'louisiana boil'; yaitu cara makan rebusan bermacam hewan laut langsung dari meja yang sudah dilapisi kertas minyak; pokoknya langsung habek! tanpa piring, tanpa sendok, hanya dengan pemecah seafood, dan beberapa alat pencungkil khusus untuk kepiting. Di daerah asalnya, cara makan seperti ini dilakukan sesekali setelah panen besar sekembalinya nelayan dari laut. 

Siang itu, saya dan dua teman saya memesan beberapa porsi kepiting lokal (mud crab), kerang, udang, dan king crab legs (impor) dengan jagung rebus dan sosis sebagai pendamping, plus nasi (yang ini agak berlebihan sih..karena porsinya lumayan banyak ternyata). 


Sunday, April 24, 2016

[RESEP] Apple Pie Filling (Selai Apel)


Sebenernya saya agak bingung mau menyebut resep yang satu ini; selai apel? apple pie filling? saus apel? Pertama saya bikin adalah untuk dimakan bareng poffertjes, tapi ujung-ujungnya saya jadikan selai untuk roti, campuran untuk oat rendaman (overnight oat), topping cupcake, campuran adonan cake, atau malah dimakan begitu saja. 

Untuk pai apel, saya malah belum pernah coba karena lebih memilih memakai apel segar langsung di atas adonan, tapi rasanya sih bakal oke-oke saja, terutama kalau memang mau isi pai yang lebih lembut.  Cara membuatnya luaaar biasa gampang dan yang paling saya suka, bisa disimpan berhari-hari asal ditaruh di toples yang steril dan disimpan di dalam kulkas bertemperatur stagnan. Yuk langsung coba saja resepnya!