Wednesday, July 16, 2014

[Resep] Murgh Makhani (Kari Ayam a la Punjab, India)

Murgh Makhani 
Seperti sudah saya janjikan di posting sebelumnya, kali ini saya akan membagi resep Kari ala India yang cocok disantap bersama berbagai macam roti, canai, ataupun nasi. Saya putuskan mencoba resep ini karena ternyata hidangan ini merupakan salah satu masakan India yang cukup populer di luar India.

Kalau di negara barat seperti Inggris, hidangan ini lebih dikenal dengan nama Butter Chicken, merujuk kepada penggunaan clarified butter (mentega yang sudah terpisah kandungan lemak dan airnya) atau disebut juga ghee. 

Gambar 2: Rempah yang saya gunakan untuk membuat Murgh Makhani
Seperti kebanyakan kari dari Indonesia, hidangan ini pun melibatkan begitu banyak rempah (gambar 2). Tapi tidak seperti kebanyakan resep kari kita yang menggunakan santan dan cabai giling, Murgh Makhani menggunakan paduan krim kental dan tomat yang sudah dihaluskan sebagai dasar.

Saturday, July 12, 2014

[Resep] Roti Paratha ala Kerala, India

Dulu saya nggak terlalu suka masakan India, karena kalaupun mau, agak susah cari Restoran India di Jakarta. Selain itu nampaknya di keluarga saya pun tidak ada yang tertarik sehingga saya lebih terbiasa mencoba masakan Cina, Jepang, atau Eropa yang sepertinya lebih cocok di lidah kebanyakan orang Indonesia. Sampai akhirnya saat saya dan suami berlibur ke KL dan suami saya mencoba set India pertamanya. 

Karena begitu mudahnya mencari restoran India di KL dan Singapura, hampir tiap hari kami mencoba restoran India baru. Saya pun jadi ikut mencoba bermacam menu baru ala India. Walau jujur setelah berkali-kali keluar masuk restoran India, sedikit sekali nama makanan India yang saya kenali.

Setelah beberapa kali mencoba masak pakai bumbu jadi, kali ini saya memberanikan mencoba masak beberapa hidangan khas India dari awal alias from scratch! Agak bikin gugup karena, tidak seperti saya kira, banyak rempah-rempah dan bumbu dasar yang agak sulit ditemui di sini.

Untuk resep pertama, saya membuat Roti Paratha ala Kerala. Ada begitu banyak resep roti ala India di internet, dan bahkan jenis Paratha itu sendiri. Cuma saya putuskan untuk coba Paratha ala Kerala karena yang paling sederhana cara membuatnya.  Sekedar Informasi, Roti Paratha agak mirip dengan Roti Maryam yang banyak di jual di Indonesia, atau Roti Chanai di masakan Malaysia. Hanya perbedaanya, pembuatan Paratha biasanya tidak menggunakan telur ayam seperti Roti Maryam. Kerala sendiri maksudnya adalah daerah di India dimana tipe Paratha seperti ini berasal.

Paratha ala Kerala

Tuesday, July 1, 2014

[Recipe] Sugar & Dairy Free Chocolate Avocado Pudding



One of the latest diet 'trend' that has caught my attention is the Paleo(lithic) Diet, or the 'Caveman' Diet.  
I know what you're saying "uh oh, here comes the organic mambo jambo." 
I won't say much about it because I have yet, and probably will not, adhere to it completely because it eliminates all sort of carbohydrate, including rice-- us Indonesians' staple food-- and relies on protein which can be expensive for three meals a day.

The Paleo diet basically adopts our ancestors' early habit of obtaining food, from foraging and hunting which naturally produce fruits, vegetables, ALL kinds (and I mean all, including the fat!) of animal produce, and strictly bans agricultural produce like wheat, sugar, rice, all starchy food, and dairy products. (For a full list, check out this Paleo Food Guide)

To be honest, for me this is the most sane diet 'trend' out there. It is just plain simple, straightforward, and very, very, logical. It is based upon the fundamental concept that the optimal diet is the one to which we are genetically adapted. True our ancestors died rather quick in the paleo era, but they were also said to have the best bone structure and, actually most happy!. Paleo diet also relies on the most basic thing in human nutrition: balance. To consume adequate ratio of fat, fibre, and protein, and to stay a world away all the trans fat, refined sugar, sugar that have been the biggest cause for most degenerative diseases of the 21st century like diabetes, obesity, to cancer.  

 Like I said, I am not yet ready to apply it 3 times a day, but I'd like to try slow, starting with this rendition of Chocolate Avocado Pudding, adopted from The Iron You blog. I modified a little bit to use up available ingredients I had with me. The original recipe asked for chia, but I omitted it because I prefer to use my Chia for puddings. 

Monday, June 9, 2014

The 'Nasi Gandul' Nostalgia

This is Pak Sardi.



For all I know, this man is almost central in my overall memory of my Dad's little hometown (am not even sure I can call it a town, so let's call it village) little village of Trangkil, Pati, Central Java. Because he whips up a plate of killer Nasi Gandul like no other.



I remember loving Nasi Gandul, even as young as I was seven years old. My dad never grow tired of telling everyone the same story of me, wanting to only eat the Nasi Gandul place where "we use the banana leaf spoon" (which is basically little folded cuts of banana leaf, used in lieu of a regular spoon).

After almost fifteen years, two years ago was the first time I visited Pati, and I am pleasantly shocked his little shop still looked exactly the same as I remembered. Crammed with hungry (but patient) customers, smelling of amazing smoky smell of wood fire mixed with Gandul stew still brewing in huge age-old cooking cauldron.

Tuesday, June 3, 2014

[Resep] Gyu Don ala Yoshinoya




Ceritanya tadi malam tiba-tiba pengen beef bowl-nya Yoshinoya, tapi lagi bokek, dan kebetulan ada stok daging shabu-shabu (baca: iris tipis) di kulkas, jadilah saya google resep 'Beef Bowl Yoshinoya'! 

Tentu yang nongol banyak, dan pada dasarnya sama semua sih, nggak beda-beda jauh resepnya. Kuncinya hanya: 

1. daging sapi kualitas baik yang diiris setipis mungkin, jadi tidak perlu daging mahal, apalagi US. Tapi memang kalau bisa dapat daging kualitas bagus, potongan bagus, dipotong tebal sekalipun nggak masalah. Sedangkan kalau dagingnya dari sapi banyak mikir (baca: sapi Indonesia), kalo nggak diiriis tuipis tuipis jadinya ya rada alot deh..

2. Bubuk kaldu ikan atau dashinomoto a.k.a penyedap rasa andalan di makanan Jepang. Sangat mudah dicari di supermarket Jepang, dan sepertinya makin sering saya lihat di swalayan besar. 
Penting karena kalau nggak pakai ini, lebih mirip tumis daging/semur aja :p Emang sih ujung-ujungnya MSG, tapi bentuk, rasa, kualitas (ceileh), dan tentu harganya juga beda jadi nggak rela disamain ama vetsin secengan. hehe 

3. Jahe. Saya perhatikan, hampir semua masakan Jepang serupa yang menggunakan bumbu sederhana seperti kecap asin, selalu menggunakan sedikit jahe, untuk memberi 'sekilas' bumbu, tapi tidak terlalu tajam. Sebaiknya, jahe hanya dimemarkan saja, sehingga nantinya tidak termakan. 

Di beberapa resep yang saya baca ada yang berpendapat yang bumbu kunci-nya adalah mirin dan sake, tapi saya sudah coba buat dengan dan tanpa menggunakan sake, menurut saya tidak terlalu banyak berbeda rasanya. Apalagi karena mirin dan sake agak susah dicari.

Jadi langsung aja ya resepnya... 

Saturday, May 31, 2014

Bihun Bebek 'Medan Suki', Pluit, Jakarta

Muara Karang/Pluit has always been such an amazing area to explore for me. It's almost an uncharted territory, even, for my whole life being spent in Jakarta. So when I do go there, I'm always usually lost, or wanting too try every single food stall I see. Either way, it's always exciting!

Because if you really want to have a taste of good food, Chinese food especially, this is where to go in Jakarta. Generally because this is where many of the Indonesian-chinese live. And they really know good food! And also because it's near the port and Jakarta's main fish market, so fresh seafood is most accessible in this part of Jakarta. (Although Jakarta's seafood is really, really questionable in general, due to the heavily polluted sea water) 

Because I'm a noob in Muara Karang, me and two my friends just random-picked a food stall in the area's main road: Bihun Bebek Medan Suki. 

Bihun Bebek

As the name represents, this shop's main dish is Bihun Bebek or glass noodle with duck meat. I've never tried this before, and that's part of the reason why we picked this place. This is just a wild guess (that I take because it's on the name :p) but I think this dish originates from the medan-chinese people that kindly brought their comfort food when they come to Jakarta. Other than the Bihun Bebek, they also serve Mie Karet ('rubber' noodle) and Swikiau (dumpling soup).

Sunday, May 18, 2014

Tapas Movida, Cipete Jakarta

Setiap lewat Cipete Raya, saya selalu penasaran sama restoran yang satu ini. Logonya banteng, namanya berbau bahasa Spanyol. Seperti apakah gerangan isinya?

Dari beberapa testimonial beberapa teman saya yang pernah bersantap di Tapas Movida, responnya kira-kira nggak jauh dari harga.
“Mahal. Puih! amit-amit.” kata yang satu.
“Gue nggak ngerti makanannya apaan.” Kata yang satu lagi.

Waduh, ngeri saya dibuatnya. Tapi saya tetap maju terus pantang kusut.
Coba cek ombak dengan browsing, lihat tips orang, dan yang terpenting, lihat website si restoran, yang ternyata cukup kooperatif dengan menampilkan menu makanan beserta harganya.

Ini adalah kali pertama saya mencoba restoran Spanyol di Jakarta, tapi kalau dilihat sekilas sepertinya Tapas Movida lumayan banyak pilihan menu Tapas-nya. Saya datang sama teman saya, Imbi, yang juga kayaknya cukup penasaran sama restoran ini dan, untungnya, cukup terbuka sama menu ajaib seperti Kaki Kodok. Dengan datang naik angkot, kita pun sepakat pasang body sama harganya (mulai lebay yaaaa)
 

Menu dessert yang kayaknya harus dicoba di waktu lain karena  jebol budget