Tuesday, December 27, 2016

Bali Spot: Settimo Cielo Seminyak's All You Can Graze Italian Feast

On my recent trip to Bali, I had the chance to visit one of the newest Italian restaurant in the swanky Seminyak area. Settimo Cielo, or Seventh Heaven, places itself to be a laid back yet classy Italian restaurant that's actually quite common in the area.

The place is definitely not that big, probably only sits around 40 people max. The interior is contemporary yet warm, with the use of deep earthy colors that cool the eye from the beating Seminyak sun. 




Saturday, December 17, 2016

[RESEP] Banana Muffins with Chia Seeds (Dairy Free)

Akhir pekan kemarin, saya melihat tiga buah pisang ambon yang terbaring lesu di dalam kulkas, dengan sekujur tubuhnya menghitam legam tanpa ampun. Bahasa kerennya, trio pisang ini, overripe. Terlalu lembek untuk dimakan begitu saja, tapi tentu masih baik untuk dikonsumsi.


Kalau sudah kayak gini, hanya ada dua cara paling tepat untuk menyelamatkan si pisang supaya tidak sia-sia eksistensinya: bikin smoothies, atau bolu pisang. Karena saya lagi nggak mood bikin smoothies, jadilah saya keluarin lagi resep bolu pisang. Tapi sayang saya kehabisan mentega, jadi kali ini, saya coba versi yang sedikit lebih sehat (alasan), yaitu dengan menggunakan minyak kelapa.

Saya pikir, hasilnya jadi tidak terlalu moist seperti kalau pakai mentega. Ternyata, kue masih lembut, dan karena memang penggunaan pisang yang lumayan banyak, sama harumnya dengan yang biasa saya buat. Kali ini, supaya nggak terlalu polos, saya taburkan sedikit chia seeds di atasnya.



Bahan-bahan:
2 cups/ 256 gram tepung terigu (bisa dicampur dengan tepung gandum utuh, atau tepung oat, jika punya)
1 sdt baking soda
1/2 sdt garam
3 pisang yang sangat matang, hancurkan
2 butir telur
3.4 cup/150 gram gula putih, aren, brown sugar, atau campuran dari beberapa. (saya pakai brown sugar)
1/2 cup/120 ml minyak kelapa




Cara:
1. Panaskan oven hingga 160 derajat celcius
2. Campur bahan kering: tepung, baking soda, dan garam
3. Campur gula dan minyak kelapa menggunakan mixer, masukkan pisang yang sudah dihancurkan
4. Masukkan telur, aduk
5. Tambahkan bahan kering sedikit demi sedikit, hingga merata.
6.  Pindahkan ke loyang yang sudah diolesi minyak & tepung, atau ke dalam mangkok cupcake atau muffin
7. Panggang selama 30-40 menit. Kalau menggunakan mangkok cupcake, akan menbutuhkan waktu lebih cepat, sekitar 15-20 menit.

Jadi deh! :D 

Thursday, December 15, 2016

[RESEP] Cara Membuat Susu Kacang Almond


Saya mengadaptasi resep susu Almond ini (alias nyontek plek plek hahaha) dari buku resep Oh She Glows garapan Angela Liddon, salah satu blogger dan penulis vegan favorit saya. Dalam arti, konten-kontennya mudah diikuti, tidak terlalu pusing berceramah, dan tidak terlalu banyak menggunakan bahan aneh-aneh yang sulit didapat (atau terlalu mahal).

Setelah beberapa kali mencoba, saya semakin ogah membeli susu almond di toko karena selain gampang buanget bikinnya (cuma memang harus modal blender/food processor dan kain saring), susu almond bikinan sendiri ternyata jauh lebih enak dari susu almond yang pernah saya beli. Selain tentu lebih terjamin juga kesegarannya.

Kita mulai saja yuk, dari alat-alat yang diperlukan:
- Food processor atau blender; semakin kuat dan tinggi kecepatannya, semakin baik. Tapi yang jenis apapun bisa dipakai kok
- Kain saring/kain tahu; bisa beli di pasar atau pakai ulang yang dipakai untuk membungkus tahu kalau nggak nemu ^^'
- Saringan ukuran sedang (bisa menggunakan yang biasa digunakan untuk menyaring santan)
Udah, segitu aja kok!

Bahan-bahan:
- 1 cup (140 grams) kacang almond mentah utuh, jangan yang sudah matang ya apalagi sudah dibumbuin ehehehe (saya beli di tokopedia, sekitar Rp. 190,000/kilo)
- 1 liter air matang/air suling
- 2-3 kurma medjool atau kurma biasa yang sudah direndam hingga lunak, buang bijinya. Atau bisa juga gunakan 2-3 sendok makan madu
- 1 sdt esens vanila murni atau dari 1 ruas vanila utuh
- bisa juga bubuhkan bubuk kayu manis, jika suka
- 1/4 sdt garam laut

Cara:
- Cuci kacang almond dan rendam selama 8 jam
- Tiriskan dan cuci lagi almond, masukkan ke dalam blender bersama air, kurma/madu, esens vanila, garam, dan bubuk kayu manis (jika menggunakan), blender dengan kecepatan tinggi hingga halus
- Lapiskan saringan dengan kain saring tahu, letakkan di atas mangkuk atau baskom besar
- Tuangkan susu almond, lalu peras hingga tuntas
- Susu almond siap dinikmati! Untuk hasil terbaik, sebaiknya disimpan di botol/toples kaca, simpan di lemari es, dan nikmati segera, sebaiknya tidak lebih dari seminggu.

NOTE: Ampas almond sisa JANGAN dibuang, bisa dipakai untuk campuran membuat cake, kue kering, dll (untuk campuran tepung). Setelah selesai diperas untuk susu almond, bisa langsung disimpan di freezer, atau dikeringkan di oven hingga kering. Untuk hasil terbaik, bisa diblender lagi supaya lebih halus.

 Kalau dihitung-hitung, untuk mendapatkan 1 liter susu almond segar, saya hanya mengeluarkan kira kira Rp. 40,000. Lumayan kan daripada beli hehe.



Monday, November 7, 2016

[REVIEW] Attarine Jakarta: A Party of Spice

Souk El Attarine: a souk (market) in the medina quarter of Tunis, capital of Tunisia, that is filled with with perfumes and beauty products. 

Which supposedly, inspired the restaurant's heavy use of spices and fragrant ingredients. Fair enough.  Although I think the owner has been to the place and likes the name because it has a nice ring to it.



Either way, I finally came down to the restaurant, owned by one of the main players in Jakarta's lifestyle constellation, The Potato Head group.

As always, the restaurant that seats about 100 (give and take) has about six parking spots, and almost non-existent bike parking. This is not, the restaurant's fault, obviously. I am simply re-stating my frustration of Jakarta's ridiculousness when it comes to parking space. 

The restaurant occupies a partition-less open space that seats about 100 people, seating elbow to elbow.  As with a lot of Potato Head's design idea, the eye feasts on a mish mash of decor, floating plants, an antique micro-car centerpiece, artworks (most sourced from the owner's personal collection), colors, and energy of people. Great start.



Friday, November 4, 2016

[Coffee Talk] Bear & Co.

Hari ini saya iseng mulai bikin postingan kedai kopi favorit saya di Jakarta. 

Karena oh karena, ya ampun banyaknya kedai kopi bermunculan lima tahun belakangan ini. Saya yang awalnya biasa biasa aja sama kopi, ah lambat laun ketagihan juga keluar masuk kedai kopi. 

Tapi maaf-maaf ya, saya bukan penikmat kopi ahli, dalam arti bisa membedakan mana yang fruity, earthy, apalagi dari dataran tinggi mana kopi yang saya nikmati berasal. Ya ampun, nggak ngerti. Saya cuma cukup paham sedikit-sedikit fakta seperti kalau momok kopi itu pahit, bikin sakit perut, gak baik untuk yang sakit maag, adalah hasil pengolahan biji kopi yang kurang baik. Lalu kafein di Arabica jauh lebih rendah dari kandungan di kopi robusta. Tapi, saya akan berusaha obyektif memberikan rekomendasi tempat-tempat yang wajib dikunjungi jika kamu penggemar kopi. 

Kedai kopi pertama saya mau tulis adalah Bear & Co., yang tidak lama ini membuka kedai permanennya di daerah Jl. Veteran I, Jakarta Pusat.  





Wednesday, November 2, 2016

[REVIEW] Mandarin Oriental Jakarta's Li Feng

I don't go to fancy Chinese restaurants often, unless I got invited. Let's leave it at that.
So when recently I had an assignment to review Li Feng, the new Chinese restaurant at Mandarin Oriental, it was quite a refreshing change for me. Li Feng, is Mandarin Oriental Jakarta's Chinese restaurant which used to be Xin Hwa, that has had quite the upgrade, both in terms of design, and taste.




First, I have to be honest, I had not tried the old one, Xin Hwa. So I have nothing to compare the new one with. But I kinda have an idea.

The chefs that were given the responsibility for this face lift are Mandarin Oriental Jakarta’s Executive Chinese Chef, Chef Loy, and Chef Fei, the man behind the celebrated Jiang at Mandarin Oriental, Guangzhou, who is apparently has quite the celebrity status. In a country full of Chinese restaurants (doh), I guess a celebrity status as a Chinese Restaurant chef is quite something, no?

Saturday, October 8, 2016

[Recipe] Matcha (Green Tea) Cupcake

Click here for Bahasa Indonesia version. 


A year ago, me and some friends set up a small bakeshop in Pasar Santa, South Jakarta. This market, gained a lot of attention because it went from zero (for the longest time, it was almost dead) to be the hippest place in town, literally overnight. Call it a gentrification or whatever, but hoards of young (a lot of time stylish) business owners flowed in and enlivened the market in matters of weeks. For us, we jumped in because it was very cheap; the cheapest rent in the city, especially for upscale South Jakarta, hence the only type of rent we could afford. 

To cut the story real short, Pasar Santa was short-lived (the hype lasted for less than a year), but lots of lessons were learned. One of which is, the kind of cupcakes that young Jakartans love the most. In our case, it was the Mini Matcha Cupcakes.