Thursday, April 17, 2014

Makan-makan Makassar (5): Pantai Bara dan Pulau Liukang Loe


Bara Beach Hotel 
Malam tadi karena kami lapar dan tidak sanggup menempuh jalan berguncang-guncang demi sesuap cumi, kami pun memutuskan mencoba restoran yang ada di hotel kami. Harganya agak mahal memang, tapi kalau dibandingkan dengan perjalanan ke pusat 'keramaian' (pakai kutip karena sama sekali nggak ramai kecuali di sebuah warung yang dipenuhi bule-bule dengan berbagai bahasa), makanannya lumayan memuaskan.

 Yang direkomendasikan adalah Spaghetti Marinara-nya yang porsinya paling nampol dan pas rasanya dibandingkan menu yang lain. Ibu juru masak restoran ini pun tidak pelit meminjamkan dapur (beserta peralatan masak dan makan mereka!) kepada kami yang kelaparan ingin rebus indomi selepas berenang sore. 

Esok paginya, kami disajikan sarapan (yang sudah termasuk harga kamar) masing-masing teh atau kopi, 2 roti tawar panggang dengan sehelai keju kraft, mentega dan selai, serta pilihan telur dadar atau orak arik. Porsinya tidak luar biasa besar, cukup lah untuk mengganjal perut sebelum melaut. 


Teras depan restoran dengan pemandangan pantai Bara, Tanjung Bira

Wednesday, February 5, 2014

Makan-Makan Makassar (4)

Setelah puas menjejali perut kami dengan bermacam makanan setempat di hari pertama, rencana perjalanan di hari kedua kami sedikit lebih bermartabat. (sedikit karena ujung-ujungnya makan juga). Diawali dengan mengunjungi beberapa situs menarik disekitar Makassar. Tadinya kami mau coba ke beberapa pulau terdekat, seperti Kodingareng Keke atau Samalona yang berjarak sekitar 1 jam dengan speedboat dari Makassar, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk mengarah ke Maros untuk mengunjungi Taman Nasional Bantimurung dan Taman Purbakala Leang-Leang. Dengan mobil, perjalanan  membutuhkan sekitar 2 sampai 3 jam, tergantung kemacetan di perjalanan. Untuk cerita lengkap tentang perjalanan ke dua tempat tersebut, bisa dilihat di sini.

Sekembalinya dari Maros, sudah waktunya makan siang dan tentu kami sudah menyiapkan daftar tempat makan yang dikunjungi lagi. hehe. Untuk tujuan pertama, awalnya kami mengincar Mie Irian (yang ada di Jl. Irian), tetapi mereka ternyata tutup di hari Minggu. Jadi kami berputar-putar di Jalan pulau-pulau dan menemukan rekomendasi selanjutnya:

1.  Mie Sulawesi di Jl. Sulawesi



Siang itu, hanya kami pengunjung yang ada di restoran ini. Tempatnya cukup leluasa, dengan beberapa meja bulat dan beberapa meja yang lebih kecil. Sepertinya restoran ini dikelola oleh keluarga turun temurun ya, karena saya melihat ada beberapa generasi dibelakang kasir bahu membahu :) Untuk makananya, seperti ini penampakan mi ayam pangsit yang kami pesan:

Mi Ayam Pangsit Sulawesi Rp. 25.000 (Besar)

Tuesday, January 28, 2014

Makan-Makan Makassar (3)

7. Mie Titi

Perhentian kami selanjutnya di Makassar adalah Restoran Mie Titi yang masih berada di area yang sama dengan Lae Lae, yaitu di Jl. Datu Museng yang terletak tak jauh dari Pantai Losari. Sebelum datang ke kedai ini, saya tidak tahu sama sekali apakah gerangan Mie Titi itu. Kenapa genit sekali namanya? 

Interior Restoran Mie Titi

Setelah mendapatkan tempat duduk, kami langsung dihampiri seorang pelayan. Untuk berenam (karena yang satu bule dengan spektrum toleransi kuliner bak anak umur 7 tahun) kami dengan pede pesan 3 porsi mie Titi. Padahal setelah yang satu ini, masih ada satu tempat makan lagi yang harus dikunjungi.


Monday, January 27, 2014

Makan-Makan Makassar (2)

Kalau dipikir-pikir, sungguh luar biasa bahwa nggak ada satupun diantara kami yang kena diare, konstipasi, atau mungkin hernia karena terlalu banyak makan dalam hitungan jam. Tepatnya 7 tempat pemberhentian makanan kami sikat dalam waktu kurang dari 8 jam. Setelah memulai hari dengan Es Pisang Hijau, dan sedikit berputar-putar kota dan Fort Rotterdam kami pun memutuskan untuk akhirnya makan siang yang sesungguhnya. (setelah seporsi nasi kuning dan es pisang hijau? sadis.)

3. Sop Konro Karebosi jalan Lompobattang*
(Tempat makan ke-1 dan ke-2 diulas di artikel sebelumnya)

Wah, Jalan Lompobattang lagi? Gak tau nih, hits banget kayaknya dia.
Sebenarnya kata pemandu wisata/penombak ikan/operator perjalanan kami, Bapak Andi, tempat ini bukan yang paling enak. "Yang paling enak yang didekat pelabuhan sana, tapi ya itu, tempatnya panas dan kotor". “Iyuh..”, kami bergidik selayaknya anak manja. Pantat kami yang sudah terlanjur berkeringat dan sepertinya sudah mulai memuai pun membuat kami extra lembek dan minta tempat yang manusiawi, begitu kesimpulan kita.

 Dibawalah kami ke Sop Konro Karebosi. Walau tanpa AC, Tempatnya memang lebih menyerupai restoran.  Asap bakaran konro pun  memenuhi ruangan dua lantai ini. Siang itu, sekitar pukul 12, hampir separuh bangku restoran terisi pengunjung Tanpa basa-basi, kami pun pesan langsung pesan minuman segar dan beberapa porsi konro bakar.

Ada cabangnya di Kelapa Gading ^^'

Sekitar 2 menit kemudian, minuman kami datang, disusul dengan nasi putih, lalupesanan kami pun hadir satu per satu. Saya dan suami hanya pesan 1 untuk berdua karena saya punya firasat porsi makanan akan cukup besar.  Satu porsi konro bakar berisi 3 potong iga bakar dengan bumbu kacang dan semangkuk kuah konro.

Iga Konro Bakar Karebosi

Wednesday, January 15, 2014

Makan-Makan Makassar (1)

Seperti sudah kami perkirakan jauh sebelum memulai perjalanan, liburan kami di Makassar , Sulawesi selatan dipastikan penuh dengan makan, makan, dan makan lagi! Bahkan ketika menyusun susunan perjalanan kami (sebuah kelompok berisikan 7 manusia yang sungguh berisik), lembaran (sok) terperinci kami berisi daftar ambisius tempat makan yang hendak dikunjungi dalam waktu kurang dari 48 jam. 

Sebelum bertolak ke Tanjung Bira, 4 jam ke Selatan, kami memang mengalokasikan 2 hari penuh untuk berkeliling kota (baca: makan?) pelabuhan tersebut. Sudah sungguh lama saya tidak mengunjungi Makassar, atau Ujung Pandang. Sejak 1988, lebih tepatnya ketika saya masih berusia 3 tahun dan saat itu tinggal tidak jauh dari Pantai Losari. 

Tidak terlalu banyak yang saya bisa ingat, selain sepinya pantai itu, keseharian yang kerjanya mengejar bereng-bereng (bahasa setempat untuk capung), dan (tentu) jajan Pisang Epe bersama ibu saya sembari jalan-jalan sore sepanjang Losari. Sampai ketika saya menghirup udara Makassar lagi untuk pertama kalinya setelah 25 tahun, dan ingatan saya yang mungkin sayup sayup tapi ternyata cukup jelas juga, tentang aroma khas kota tersebut. Aroma laut, bukan amis, tetapi bau khas kota pelabuhan yang menyeruak sesampainya kami sampai jalan tol yang menghubungkan bandara Hasanuddin dengan jalan-jalan utama Makassar. 

Kami menginap di sebuah penginapan sederhana di Jalan Lampobattang bernama Mega Inn. Sampai keesokan harinya setelah waktu kedatangan kami (kami tiba di hotel sekitar pukul 1 malam), saya tidak menyadari betapa pentingnya Lampobattang di perjalanan kami kali ini. Perhatikan poin-poin sbb: 
  • Di jalan lampobattang ini terdapat toko Bapao Lampobattang yg termasyhur seantero Makassar. 
  • Kedai ini ternyata menjadi tujuan spesial (kalau bukan satu-satunya) salah satu teman kami, Nona Imy, yang ternyata masih ada hubungan kerabat dengan si tante pemilik toko.
  • Bapao-bapao montok dari kedai ini (baik yg halal ataupun tidak) senantiasa mengisi lumbung-lumbung perbekalan kami selama berpetualang di dalam kota hingga ke ujung selatan Pulau Sulawesi! sehingga sampailah kita pada perhentian tempat makan Makassar kita yang pertama:

  1.  Bapao Lampobattang
photo by @imyferica

selain poin-poin diatas, perlu dicamkan bahwa toko ini memang sungguh spesial dari sejak lama. Menurut kawan saya @imyferica Bapao yang dihasilkan si tante memang luar biasa empuk seperti bantal bulu angsa, dengan isi yang padat dan membludak minta keluar. 

Pilihan rasa yg ditawarkan tentu ada Babi (yg dimasak merah), Babi merah plus telur asap (kata imy ini yang paling enak), keju, coklat, dan Tausa, atau pasta kacang hijau yang dimasak dengan gula dan tawas hijau sehingga berwarna hitam pekat dan mengeluarkan rasa yang khas. Selain Bapao, toko ini menjual kudapan khas makanan China lainnya, seperti Somay (Babi), Mantao, dan Bacang, yang kata Imy lagi, begitu padat sampai bisa untuk bekal 2 hari. 

Di akhir perjalanan, sebelum kami terbirit-birit mengejar pesawat pulang ke jakarta, kami bahkan menyempatkan mampir di toko bapao ini dan membeli 20 (dua puluh!) buah bapao sebagai sogokan supaya ia dijemput. Satu lagi alasan mengapa Bapao ini sungguh signifikan dalam keselamatan kami di perjalanan. 


Friday, January 10, 2014

Kwetiau Akang Arteri PI: Tomato Toh..Maay..Toooh..

Kwetiau Tomat Akang

I know for sure that there are definitely countless of kway teow (not exactly sure how to spell this) or noodle places in Jakarta, in West and South especially where parts of it has long been considered as the chinatowns of the city. In fact, most chinese places would serve most kinds of kway teow and most of the time they are delicious too. Just adhere to the thumb rule of look where all the crowd goes. Stir-fried, in clear soup, thick sauce, with beef, seafood (the most common), pork, are just few that came to mind. 

For that reason, kway teow isn't really something I'd like to 'try'. Except when maybe there's just a slight different touch to it-- like this kway teow I'm about to write about, Kwetiau Akang that interestingly serves Tomato Kway Teow (Kwetiau Tomat). The other reason that got me psyched about trying the place is that they opened a branch to their Muara Karang shop in Pondok Indah Arteri which is conveniently close to where I live. As a lot of Jakarta now grow more and more conscious of, we just reserve in going across district (even those that are just side by side) for something nearly life threatening or changing at the least. 

Last time I checked, (they do have a facebook page, twitter, and a website),Kwetiau Akang has its branches in Arteri Pondok Indah, Muara Karang (Pluit), a stall in Living World, Alam Sutera, and Pasar Ah Poong (Sentul City).

Tuesday, October 8, 2013

Potatoes O'Brien Recipe to try

Look what I found playing WordDynamo! (irrelevant)

Potatoes O’Brien
4 smallish firm-fleshed potatoes
6 scallions, cut into 1/2″ slices (irreleva
1/2 small green pepper, 1/2″ dice
1/4 c grated parmesan
salt and pepper
2 tbsp butter or oil
Boil potatoes until just done, chill in cold water, and drain. Cut into 3/4″ dice.
In a medium bowl toss potatoes, onions, green pepper, Parmesan cheese, and salt ad pepper to taste.
Melt butter in a non-stick skillet over medium heat and add potato mixture. Press flat with a spatula. Cook uncovered for one minute. Cover and cook two minutes. Remove cover and continue cooking for three to four minutes — don’t stir — until a dark brown crust forms on the bottom. (Lifting an edge gently with the spatula to check for a crust is permitted.) Serve immediately.

this would be a good option from the regular mash/fries/baked potato :)

from: http://seriouslygood.wordpress.com/2004/05/18/potatoes-obrien/